Minggu, 30 Oktober 2016

Jalan-jalan malam


Tulisan ini dibuat setibanya saya di rumah selepas jalan-jalan malam.
 
Waktu menunjukkan pukul 22.30. Bapak saya mengajak pergi ke pasar pisang (dekat Pasar Palmerah) untuk membeli pisang. Memasuki wilayah Palmerah tepatnya setelah SMPN 16, nampaklah pemandangan pasar tumpah. Pedagang sayur menjajakkan dagangannya di sepanjang jalan.

Pasar yang mulai beroperasi diatas pukul 21.00 ini cukup asik dipandang mata. Lemon, brokoli, tomat dan paprika menjadi warna-warna yang indah mewarnai jalan.

Setelah melewati pasar tumpah, tibalah saya di pasar pisang. Pasar ini tidak sepenuhnya menjual pisang, ada juga buah-buah lain. Bahkan ada pula yang menjual sayuran, singkong, dan ubi. Saya rasa pasar ini nampak tidak konsisten dengan namanya.

Di bagian belakang pasar berjajarlah 12 kios yang menjual pisang. Bertandan-tandan pisang digantung di tiap kios. Bapak saya memasuki salah satu kios untuk memilih pisang. Sembari menunggu, saya memutar-mutarkan badan untuk mengamati pasar.

Suara komentator D'Academi Asia mampir di telinga saya. Rupanya beberapa pedagang pisang  sedang menonton acara itu. Salah seorang bertanya kepada temannya "picing apaan sih?", dan temannya tidak ada yang tahu. Mereka nampak asik mengobrol.

Mayoritas pedagang di sini adalah laki-laki. Tidak hanya laki-laki separuh tua, banyak juga laki-laki yang masih muda. Pasar itu sepi, tidak banyak pembeli. Mungkin karena pasar ini merupakan tempat pendistribusian atau memang pasar ini benar-benar sepi, entah lah.

Setiap hari saya melewati pasar ini. Pasar tidak pernah tidur. Mereka berjualan dari pagi sampai pagi lagi. Pantas saja muka mereka terlihat seperti menahan kantuk yang amat sangat.

Pedagang-pedagang itu tidak kenal waktu dalam bekerja, dalam mencari uang. Untuk kehidupan. Tapi kehidupan macam apa?

kehidupan yang setidaknya terpenuhinya sandang, pangan dan papan? Ah, sederhana sekali. Mereka macam orang yang kehilangan mimpi-mimpi.
Sekian.



 sumber gambar: google.com

Sabtu, 22 Oktober 2016

Mukena Kampus


Hari Sabtu ini jadwal kuliah saya padat, rutinitas yang menjenuhkan dan membuat uring-uringan. Sembari menunggu kelas Sistem Perwakilan Politik saya menyampaikan keluh-kesah kepada dua teman saya yaitu, Sandy dan Maul.

"lo tau gak sih, musala cewek joroknya minta ampun. Mukena sampe bau busuk gitu! Buat orang yang imannya tipis kayak gue salat di tempat bersih aja godaannya masih banyak, apalagi di tempat yg kayak begitu!", dengan nada berapi-api saya menyampaikan itu.

Kedua teman saya ini termasuk laki-laki yang rajin beribadah, beda lah pokoknya dengan saya. Mereka salat untuk menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim. Sedangkan saya beribadah atas dasar rasa syukur kepada yang memberi hidup dan kehidupan. Kalo kualitas ibadah saya jelek berarti saya sedang jauh dengan Tuhan dan saya tidak mensyukuri hidup, ibaratnya sesederhana itu.

Saya ini bukan orang yang paham tentang agama, tapi saya ingat guru agama saya pernah berkata bahwa "kebersihan adalah sebagian dari iman".

Saya jadi heran!

"Kampus yang mayoritas beragama islam kok tempat ibadahnya kotor? "
"Jadi, sedang pergi kemana iman mereka sekarang?"

Diskusi di lingkungan kampus tentang islam belakangan ini pun tidak jauh tentang Ahok yang katanya kafir, atau ahok yang menistakan surat Al Maidah:51. Diskusi yang saya rasa merupakan diskusi tingkat tinggi, karena melibatkan sebuah penghakiman yang jelas-jelas hakim seadil-adilnya hanya Tuhan.

Padahal saya menantikan sebuah obrolan ringan tentang bagaimana menjaga kesucian rumah Tuhan tanpa bergantung dengan marbot dan petugas kebersihan. Tapi mungkin obrolan ini terlalu remeh dan receh. Lagi pula sepertinya obrolan seperti itu tidak menarik dan membosankan.

Ah Saya terlalu malas berbicara tentang perseturuan Ahok dan keyakinan umat Islam. Saat ini saya hanya ingin mengumpulkan semua mukena itu,  memasukkanya ke dalam kantung plastik yang besar, lalu membawanya ke tukang laundry. Itu saja!
Sekian.


 sumber gambar: google.com

Minggu, 16 Oktober 2016

Tentang Uang


Disela-sela pembuatan materi untuk diskusi hari selasa nanti yang bertemakan "perempuan sebagai tiang negara dalam kabinet kerja Jokowi", kejenuhan pun muncul. Saya belakangan ini lagi malas dengan sesuatu yang serius, saya  menginginkan hal-hal yang menghibur dan menenangkan jiwa.

Iseng saya membuka facebook. Saya menemukan sebuah foto yang diunggah rekan KASBI. Foto ini seketika membuat saya menangis. Saya sudah pernah melihat foto ini sebelumnya, tapi saya lupa tepatnya kapan. Foto ini kalau tidak salah merupakan foto petani yang mengalami kekerasan dari kaki tangan pihak perkebunan. Sungguh tragis pikir saya.

Pikiran saya belakangan ini selalu tentang cinta kasih dan ketenangan jiwa. Semakin saya memahami itu, rasanya saya justru menjadi seseorang yang hatinya cengeng.

"Mengapa dunia ini banyak sekali kebencian?", itu yang terus-menerus saya pikirkan.

"mengapa seseorang terobsesi mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya?"

"Apa benar uang dapat membeli kebahagiaan?"

"Semahal apakah arti kemanusiaan?"

Sungguh saya sangat benci bahasan mengenai uang. Memikirkan uang sama saja membunuh jiwa saya perlahan-lahan. Saya lupa rasa syukur. Saya menjadi iri hati. Saya menjadi terlalu ambisius.

Suatu ketika saya pernah bilang ke teman saya kalau saya magang menjadi wartawan di www.kabarburuh.com , lalu dia bertanya "digaji berapa?", seketika saya langsung kesal.

"Memangnya berarti atau tidaknya sesuatu yang kita kerjakan itu dilihat dari jumlah uang yang didapat?"

Seseorang takut tidak punya uang
Seseorang malu menggunakan barang murah
Seseorang gengsi tidak memiliki kendaraan pribadi
Seseorang berkata uang dapat membeli kebahagiaan

Apakah kalian tahu hakikat kebahagiaan yang sebenarnya?
Sekian. 


Matinya Daun dan Bunga Kemarin


Taman yang rusak
Demonstrasi berbagai elemen masyarakat untuk menolak Ahok kemarin menyebabkan taman di depan balai kota rusak. Sebagian menganggap bahwa rusaknya taman itu akibat ulah demonstran, sebagian lagi menganggap bahwa itu sebuah framing dari media. Saya tidak mau mengatakan pihak mana yang salah dan pihak mana yang benar, karena saya tidak ada di lokasi waktu kejadian. Tapi sungguh saya sangat menyesalkan matinya dedauan dan bunga-bunga itu.

Saat saya duduk di bangku SD, guru saya mengajarkan bahwa makhluk hidup adalah manusia, hewan dan tumbuhan. Saya selalu dianjaran bagaimana bersikap yang baik terhadap sesama manusia. Tapi saya tidak pernah diajarkan bagaimana cara bersikap yang baik dengan binatang dan tumbuhan. Padahal  mereka sama-sama makhluk yang hidup.

Semester lalu saya mendapat mata kuliah Ilmu Kealaman Dasar. Saya mendapat pemahaman bahwa manusia memiliki sebuah keunggulan dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya yaitu akal. Tapi kadang saya bingung kenapa akal manusia menghancurkan alam dengan sebuah istilah "Pembangunan".

Walaupun saya lahir dan dibesarkan di sebuah kota besar, hal itu tidak membuat saya mencintai mall dan hingar-bingar didalamnya. Saya justru sangat mencintai alam dan budaya yang beriringan. Saya selalu beranggapan bahwa alam memiliki roh yang sangat mulia. Berkhianat kepada alam sama buruknya dengan berkhianat  kepada Tuhan.

Saya mungkin sudah menamatkan pendidikan bagaimana caranya menghormati sesama manusia.
Tapi saya masih payah dalam menghormati segala sesuatu yang hidup dan yang menyokong kehidupan. Saya terinspirasi dari tulisan-tulisan Gobind Vashdev yang saya temukan beberapa bulan lalu di Facebook. Karenannya saya mulai belajar bagaimana hidup berdampingan dengan alam, belajar menghormati dan menjaga segala sesuatu yang diciptakan Tuhan.

Saya yakin Tuhan menciptakan manusia dengan akal bukan sekedar untuk memenuhi hasrat kehidupan sebagai manusia, tapi juga sebagai tameng untuk melindungi segala ciptaannya.
Sekian.


 sumber gambar: Google.com

Jumat, 14 Oktober 2016

Sepanjang Jalan Tadi Malam



Tulisan ini dibuat disela-sela mengerjakan tugas Metode Penelitian Sosial (MPS) yang membuat kepala cenat cenut.

Saat ini waktu menunjukkan pukul 0.58 dini hari. Saya masih anteng di depan laptop untuk mengerjakan tugas setelah mendapat sedikit pencerahan dari senior tadi. Selang beberapa menit saya mulai bosan mengerjakan tugas ini.  saya memilih untuk sedikit menulis tentang apa yang saya lihat di parjalanan pulang dari kampus, beberapa jam yang lalu.

Saya tiba di Stasiun Palmerah sekitar pukul 21.30. Saya melihat beberapa orang berbaju hitam di pelataran Stasiun Palmerah. Mereka ternyata sekelompok anak-anak yang sedang berlatih silat. Lima perempuan berumur sekita 12-15 tahun, dan 2 laki-laki yang jauh lebih tua. Dua lelaki itu adalah guru silat mereka. Salah seorangnya seusia saya, dan yang satunya mungkin sekitar 28 tahun.

Satu per satu dari mereka maju dan memperlihatkan hafalan jurusnya. Mereka berlatih dengan santai, tanpa ketegangan. Mereka telihat gembira dengancanda tawa dan senyum di wajahnya.

Saya berlalu menuju mikrolet M11 jurusan Meruya-Tanah Abang yang biasa ngetem di pasar Palmerah. Mikrolet ini hanya berisi 7 orang termasuk supir. Cukup leluasa untuk menikmati malam sepanjang perjalanan.

Di pertiigaan Rawa Belong terlihat segerombol muda-mudi tepat di depan toko yang menjual pernak-pernik Persija, klub bola kebangaan Jakarta.
Saya bertanya-tanya, "memangnya ada pertandingan bola hari ini? Persija menang kah? "
Semakin jauh mikrolet ini berjalan, semakin jauh pula kepedulian saya dengan hal itu.

Saya turun di gapura berwarna merah putih dengan tulisan angka kemerdekaaan, di dekat pohon kamboja yang bunganya berguguran itu. Jalan itu biasanya sepi, terlebih semenjak ojek konvensional tidak mangkal lagi. Malam ini berbeda, jalan ini ramai.

Saya melihat gerombolah muda-mudi lagi. Mereka lebih gila dari yang saya lihat di pertigaan Rawa Belong tadi. Mereka bergerombol dengan pasanganya masing-masing. Mungkin mereka mau pergi jalan-jalan, mengingat besok adalah hari libur untuk anak sekolahan.

Saya melihat empat orang dari mereka berboncengan dalam satu motor. Dengan urutan duduk selang-seling antara laki-laki dan perempuan.
"Ah ini sinting", ucap saya

Saya melewati mereka dengan senyum kecut, dengan nyinyir di dalam hati "gila, ini apa-apaan!".
Semakin jauh saya berjalan, semakin jauh pikiran itu saya lupakan.

Jalanan sepanjang 200 meter menuju rumah malam ini ramai, tidak seperti biasanya. Mungkin malam ini banyak orang yang sedang bersuka cita dengan pilihan-pilihan hidupnya. Menjadi pesilat, menjadi anak tongkrongan atau menjalani kisah cinta. Mungkin itu.
Sekian


 sumber gambar: Google.com

Kamis, 13 Oktober 2016

Gugur Kamboja


Aku memasuki sebuah jalan setelah melewati gapura berwarna merah putih dengan tulisa angka usia kemerdekaan. Jalan itu sepi dengan lampu remang. Sesekali motor lewat memecah sunyi. Berdiri di sepanjang jalan pepohonan berbunga. Bunga kertas, bunga sepatu, dan sebagian lainnya aku tidak tahu apa namanya.

Sebuah pohon masih menggugurkan bunganya seperti jati dimusim kemarau. Berwarna kuning dan putih di tepian kelopaknya, orang-orang menyebutnya kamboja.

Aku memungutnya. Aku mencium wanginya. "inikah bau mistis?", tanyaku
Seseorang berkata  bau bunga kamboja seperti bau kuburan.
"Oh mungkin karena dia berteman dekat dengan melati, kantil dan kemenyan", pikirku

Aku memungut 2 bunga kamboja yang berguguran dibawah dahannya sendiri. Aku mengirup aromanya sepanjang jalan dan kubawa pulang.

Aku memasang bunga itu di selipan telinga. Aku berdiri di depan cermin. Nampak wajahku, kubayangkan seperti perempuan bali dengan rambut kepang dan setumpuk buah-buahan diatas kepalanya.

"Ini tidak terlalu buruk"

Aku letakkan kedua bunga itu diatas meja kamarku, lalu kutinggal tidur.
Dua hari berlalu.
Aku lupa.
Aku punya bunga.

Di atas meja itu kini terlihat kelopak yang kisut. Kuning yang menjadi kecoklatan. Bungaku layu. Tidak ada aroma mistis lagi. Bungaku kini semakin menua. Esok dia semakin coklat. Dan esok lagi dia lebih coklat dan kering atau justru berbau busuk.

Besok aku memungut bunga lagi. Semuanya selalu berulang kembali.
Sekian

*Salam suka-citaku untukmu yang pergi menuju keabadian. 

sumber gambar: google.com

Minggu, 09 Oktober 2016

Sebut Saja Dia Wandi dan Winda


Saya sudah cukup banyak membuat tulisan dalam blog ini. Hampir semuanya merupakan refleksi dari yang saya alami dan saya lihat, dari puisi patah hati sampai perbincangan mengenai tuhan. Hanya 2 atau 3 tulisan yang merupakan sebuah karangan dan sebenarnya saya kurang menyukai tulisan itu. 

Saya baru sadar sejak kecil Tuhan sudah bermain-main dengan hidup saya. Saya pernah tinggal di kawasan yang cukup elit di Senayan, namun seketika saya dipindahkan ke sebuah perkampungan di Kebon Jeruk. Saat pindah ke Kebon Jeruk hidup saya berubah  drastis, dan ini lah waktu-waktu dimana Tuhan menempa saya dengan keras.

Satu-persatu cerita tentang kehidupan saya akan saya ceritakan dalam blog ini. Hal-hal yang membuat pikiran saya selalu dibawa terbang kesana-kemari.

Kali ini yang akan saya ceritakan adalah tentang Wandi atau Winda.

Kebon Jaruk tempat yang saya tinggali 11 tahun yang lalu berbeda dengan Kebon Jeruk yang saya tinggali saat ini. Perkampungan ini berada 50 meter dari anak sungai, yang menyebabkan perkampungan ini sesekali banjir. Di sana merupakan perkampungan dengan jajaran kontrakan permanen hingga semi-permanen. Pemilik kontrakan itu adalah orang-orang betawi yang memiliki tanah atas waris dan tanpa surat-surat yang jelas. Dan penghuni kontrakan merupakan perantau yang kebanyakan berasal dari Cirebon. Mayoritas dari mereka bermata pencaharian sebagai pedagang, seperti pedagang sate kulit, ketoprak dan gorengan.

Saya mengenal seseorang bernama Wandi. Pagi hingga sore hari dia berprofesi sebagai pedagang sate kulit. Saat malam dia menjajakan diri menjadi waria dan biasa dipanggil  Winda. Dia seorang homoseksual. Dia tinggal berdua dengan pasangannya yang orang Medan.

Alm. Ibu saya berteman baik dengan dia. Dia pernah meminta baju bekas dari ibu saya untuk dikenakan saat mangkal. Dia juga sering bercerita tentang kejadian lucu saat dikejar-kejar satpol pp. Keluarga saya, bahkan semua orang di lingkungan ini tidak pernah mempersalahkan kehadiran dia. Seorang ustad (baca: Ustad Manaf) di lingkungan ini pun tidak pernah merasa terganggu dengan Wandi, padahal ia termasuk golongan orang yang sering dibilang sampah masyarakat.

Saya dan teman-teman saya pernah melihat dia berdandan sebelum menjajakan diri menjadi waria. Dia menggunakan alas bedak di seluruh tubuh agar terlihat mulus. Dia menyumpal dadanya dengan kain agar terlihat besar. Dia juga menggunakan wig karena rambutnya tidak cukup panjang. Katanya, baju dan segala macam keperluannya ia beli di Pasar Senen dengan harga yang murah.

Herannya, orang tua kami tidak ada yang melarang kami untuk berdekatan dengan dia. Dia pun tidak menyeramkan bagi kami. Dan tidak ada kejadian aneh-aneh yang kami alami karena dia.

Selama dia tinggal disini tidak ada laki-laki yang tertular jadi gay. Dia pun tidak memengaruhi orang-orang agar sama seperti dia. Ya, dia hidup selayaknya masyarakat biasa.

Beberapa bulan yang lalu (saya lupa tepatnya kapan), saya menghadiri sebuah diskusi mengenai LGBT di daerah Cikini. Disana saya mendengar cerita dari kaum LGBT mengenai diskriminasi yang mereka alami setelah naiknya isu LGBT secara global. Sungguh miris mendengarnya. Dari kasus pengusiran hingga pencabulan, itulah yang mereka alami.

Sebelumnya saya pernah penulis tentang LGBT di blog ini https://apreliaa.blogspot.co.id/2016/02/perspektif-untuk-lgbt.html
Mungkin sebagian akan menanganggap pendapat saya itu omong kosong, atau justru melenceng dari ajaran agama. Tapi yang jelas, hal yang mendasari sudut pandang saya kepada kaum LGBT ini bukan semata-mata karena agama, bukan karena kekahwatiran sosial, tapi saya pernah merasakan sendiri hidup di lingkungan bersama dan berdampingan dengan mereka. Saya rasa tidak seburuk yang orang-orang pikirkan. Mungkin masyarakat terlalu hanyut dengan isu ini. Atau mungkin mereka terlalu paranoid.
Sekian.



sumber gambar: Google.com

Sabtu, 08 Oktober 2016

Menemukan Tuhan



Saat liburan selepas lulus SMA saya membaca dua buah buku, yaitu tentang biografi Soekarno dan buku tentang ajaran Buddha. Di dalam buku biorgrafi soekarno terdapat tulisan tentang bagaimana dia mencari Tuhan. Lalu dalam buku ajaran Budha terdapat tulisan tentang bagaimana Sidharta Gautama menjadi tercerahkan. Kedua buku itu membuka mata saya tentang cara saya memandang Tuhan.

Sebelumnya saya memandang agama sebagai sesuatu yang aneh. Saya tidak pernah puas dengan sesuatu yang diajarkan oleh guru agama, guru ngaji bahkan ustad. Yang saya pikirkan dulu agama seperti perusahaan besar, ada bos dan karyawan.

"Bos selalu memerintah dan selalu benar. Karyawan harus menuruti apa yang dikatakan bos, apabila melanggar akan dihukum. Tapi apabila dia bersikap baik maka akan mendapat bonus."

Hubungan atara sang pencipta dan makhluk ciptaannya itu terlihat konyol dimata saya. Mungkin hal itulah yang membuat nilai agama saya tidak pernah bagus, bahkan saya hampir tidak lulus SMP karena itu.

Setelah saya membaca kedua buku itu saya terus-menerus berpikir,
"saya harus bagaimana?"
"apa yang harus saya lakukan?"
Dan saya masih terus berpikir sampai saat ini.

Saya tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan itu dari kedua buku tersebut. Saya pikir saya harus mencari jawabannya sendiri , dan mungkin itu membutuhkan waktu yang sangat panjang.

Mungkin salah kedua orang tua saya karena tidak membesarkan saya dengan pendidikan agama dengan semestinya. Atau juga kesalahan saya karena tidak bisa menerima ajaran agama dengan semestinya pula. Saya tahu mempertanyakan agama dan Tuhan masih selalu dianggap tabu, dan pasti banyak yang memandang sikap saya ini sebagai bentuk perbuatan dosa. Tapi bagi saya, apalah arti hidup yang sebentar ini jikalau kita hanya mengikuti apa yang diperintahkan tanpa mempertanyakan apa maksud dan makna di dalamnya.

Setelah 1,5 tahun saya akhirnya menemukan sebuah jawaban, mengapa saya menganggap agama sebagai suatu yang aneh dan konyol. Selama ini guru saya mengajarkan tentang ajaran islam, apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihinddari, apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang baik dan apa yang buruk. Tapi mereka tidak sekalipun mengajarkan saya untuk cinta kepada Tuhan saya.

Di dalam ajaran islam..............
Menurut al Quran dan hadist..................
Nabi/rasul bersabda.........................
Itu yang selalu mereka katakan.

"Seseorang menghindari perbuatan buruk karena takut dosa. Seseorang shalat karena kewajiban dan hitungan pahala. Seseorang mengikuti ajaran agama karna ingin surga. Seseorang menghindari dosa karena takut neraka." mengapa harus seperti ini?

Saya masih harus belajar banyak tentang Islam, tapi yang jelas saat ini saya sudah menemukan dan jatuh cinta dengan Tuhan. Saya tidak peduli dengan pahala, dosa, surga ataupun neraka. Saya rasa itu urusan Tuhan dan malaikat-malaikatnya. Apapun yang saya lakukan saat ini semata-mata karna kecintaan saya kepada zat yang memberikan saya hidup dan kehidupan. Saya masih yakin bahwa Tuhan ada di setiap hati nurani manusia. Saya cukup mempelajari apa-apa yang telah ia turunkan dan mengikuti hati nurani dalam tiap langkah saya. Mungkin kalau saya bisa bertemu dengan-Nya saya akan mengatakan, "tenang, saya bukan makhlukmu yang pamrih".
Sekian.  

sumber gambar: Google.com

Senin, 03 Oktober 2016

Bapak Penjual Kue Putu


Waktu menunjukkan pukul 1.40 dini hari. Udara di luar cukup dingin, sedikit menusuk meski tidak separah udara Bogor dan Puncak. Sebuah api unggun masih menyala, walau hanya tinggal bara dan sedikit nyala apinya. Masih cukup menghangatkan, pikirku.

Aku mendangak ke atas. Tidak ada bulan. Hanya ada dua bintang. Aku masih berharap bisa melihat lebih banyak sesuatu yang berkerlap-kerlip malam ini. Malam ini terlalu sepi. Terlalu dingin. Terlalu gelap.

Seseorang dengan gerobak lewat di depanku. Dia penjual kue putu. Tidak ada ngiung dari suara uap, mungkin karena dagangannya sudah habis.

Usianya kurang lebih 40 tahun. Bapak penjual kue putu itu tingal sendiri tanpa anak istri. Dia seorang duda, ditingal mati istrinya karena sakit jantung dua tahun lalu. Dia memiliki seorang anak perempuan, yang kini tinggal bersama neneknya di kampung. Anak perempuan itu bertubuh agak gemuk, berambut keriting, berkulit coklat, dan agak cerewet. Mirip sekali dengan mendiang Ibunya, hanya saja kulit ibunya sedikit lebih putih.

Malam ini ia terlihat sangat kelelahan. Kantung matanya besar dan menghitam. Kupikir dia sudah bosan melihat malam. Mungkin dia juga sudah bosan melihat bulan dan bintang. Mungkin dia butuh yang jauh lebih bersinar. Mungkin juga dia butuh sesuatu yang lebih menghangatkan.

Dia terus mendorong gerobaknya. Rodanya terus berputar. Menerobos malam.
Sekian.

Puasa Gadget


Sudah beberapa minggu saya mulai membatasi diri dengan gadget dan social media. Angan-angan saya malah ingin benar-benar meninggalkan itu semua, tapi saya sadar tidak semudah itu. Perlahan saya mulai meninggalkan instagram, dan ternyata berhasil. Tapi ternyata sangat sulit untuk meninggalkan yang lainnya.

Keinginan saya untuk menggurangi penggunaan gadget dan social media dikarenakan saya belakangan ini sering  sakit kepala. Saya pikir ada yang tidak beres dengan kepala saya, mungkin karena radiasi dari gadget yang saya gunakan.

Tekad saya untuk membatasi diri dari gadget dan social media semakin bulat setelah saya ngobrol dengan teman saya Rizki Ansyari (baca: Oe).

"ah gila, belakangan ini gue mageran baget baca buku!", ucap saya
"gue aja bersyukur hp gue rusak, gue jadi punya banyak waktu buat baca buku. Ya walaupun sering ketinggalan informasi sih." balasnya
"mungkin gue harus ngerusakin tab gue!"
.....................

Saya berpikir keras bagaimana meninggalkan kebiasaan itu. Saya akui memang susah, tapi saya tetap bertekad, saya harus bisa! Akhirnya saya membuat pola/jadwal 'kapan saja saya bisa menggunakan gadget'. Mungkin kelihatannya agak konyol, tapi sungguh saya melakukan ini.

Teman-teman saya terkadang ngomel karena saya susah dihubungi, lalu saya hanya bisa tertawa sambil menjelaskan bahwa saya jarang pegang tab. Mereka sepertinya menerima alasan saya, atau mungkin tidak.

Mungkin terlihat aneh ketika seseorang lahir di dunia dan dimanjakan dengan kemudahan yang disebut teknologi tapi dia memilih pergi ke dunia entah-berantah yang penuh dengan semak belukar.
Saya terlihat seperti sedang melarikan diri dari dunia. Saya semakin yakin bahwa sepertinya saya lahir di zaman yang salah. Jiwa saya sepertinya menolak untuk tetap berda di dunia yang seperti ini. 

Saat ini saya memiliki harapan untuk benar-benar tidak menggunakan gadget selama beberapa hari dalam seminggu, atau setidaknya pada hari libur. Saya menyebutnya "puasa gadget". Saya merasa gadget, internet, social media itu seperti lingkaran setan. Radiasinya membuat fisik saya sakit dan hal-hal di dalamnya membuat jiwa saya yang sakit.
Sekian.


sumber gambar: Google.com


Sabtu, 01 Oktober 2016

Barisan Minyak Nabati


Kemarin saya ke Carrefour berniat untuk membeli minyak zaitun (EVOO: Ekstra Virgin Olive Oil) yang kebetulan persediaan di rumah sudah habis. Minyak Zaitun sangat penting bagi saya karna sangat serbaguna. Biasanya saya menggunakan produk minyak zaitun dari mustika ratu (sudah kurang lebih 3 tahun). Tapi setelah saya baca-baca di internet ternyata minyak zaitun yang di produksi oleh perusahaan kosmetik dan skin care tidak murni dari minyak zaitun, melainkan sudah dicampur dengan minyak esensial lainnya untuk menambahkan aroma. Oleh karena itu saya memilih beralih menggunakan EVOO yang kandungan nutrisinya lebih tinggi dibanding minyak zaitun jenis lainnya (Virgin olive oil, ekstra light olive oil).

Ahirnya saya sampai di depan rak yang berisi belasan merek minyak nabati seperti borges, bertolli, flippo berio, dll . Rak ini didominasi oleh produk minyak zaitun dan ada minyak lainnya seperti minyak biji anggur, canola oil, dan virgin coconut oil (VCO). Saya cukup lama berada di depan rak ini karna saya membaca satu persatu komposisi dari setiap produk, tapi sasaran saya waktu itu hanya EVOO. Minyak-minyak ini hampir semuanya produk impor dari Eropa dan Arab. Ya wajar saja karna memang buah zaitun tidak tumbuh di Indonesia, oleh karena itu tidak mungkin ada produk minyak zaitun buatan lokal.

Tiba-tiba mata saya tertuju pada satu produk virgin coconut oil (VCO) yaitu, Java Coconut Oil. Java Coconut Oil  merupakan satu-satunya produk minyak kelapa, dan satu-satunya pula produk lokal di rak itu. Tiba-tiba  terucap dari mulut saya "Ah ini sinting"

*saya tiba-tiba ingin jadi pengusaha VCO*

Silahkan baca :

Dari dua link tersebut dapat digambarkan bagaimana minyak kelapa dibombardir oleh minyak-minyak lain. Persaingan industri pun ikut ambil bagian dari runtuhnya kepercayaan terhadap minyak kelapa.

Sebagai negara dengan garis pantai yang sangat panjang dan beriklim tropis, pohon kelapa merupakan berkah alam yang luar biasa besarnya. Dengan kandungan nutrisi yang sangat baik seharusnya minyak kelapa lokal bisa bersaing dengan produk minyak impor lainnya.

Saya pikir minyak kelapa mempunyai peluang bisnis yang besar. Kalau masih berpikir sulit untuk bersaing dengan industri minyak sawit yang produknya jauh lebih murah dibandingkan minyak kelapa, mungkin ada peluang yang lebih besar di industri kecantikan (beberapa artis hollywood menggunakan minyak kelapa sebagai rahasia kecantikannya).

Sebenarnya bukan minyak kelapa saja yang bisa menjadi peluang bisnis, tapi kita bisa memanfaatkan kekayaan alam kita yaitu rempah-rempah. Rempah-rempah dapat diolah menjadi minyak nabati yang memiliki nilai ekonomis seperti misalnya Minyak kemiri dan minyak wijen.

Saya tidak mau berlama-lama di depan rak minyak nabati ini, semuannya membuat saya pusing. Akhirnya saya tidak jadi membeli EVOO, saya memutuskan untuk membeli  Java Coconut Oil saja. Seperti kata Titik Puspa dan Direktur Maspion, "cintailah produk-produk Indonesia".
Sekian.


Sumber gamba: google.com