Belakangan ini
di timeline line sering sekali muncul postingan yang membahas tentang kenaikan
biaya kuliah di PTN. Ada yang menolak
ada juga yang memaklumi. Bagi yang menolak mereka berkata katanya biaya kuliah
sudah ndak merakyat. Bagi yang memaklumi ya you know lah jaman sekarang mana
ada yang murah pipis aja bayar, begitu katanya. Seperti biasa saya ndak mau
memihak salah satu pihak sebab keduanya ndak ada yang benar dan ndak ada yang
salah menurut saya.
Biaya kuliah di PTN
berapaan sih? Kupikir dulu itu biaya kuliah di PTN murah lha taunya sama-sama
mahal juga ternyata. Mungkin itu sebabnya saat uang kuliah dinaikkan oleh pihak
kampus banyak mahasiswa yang demo dan mengatakan kampusnya bukan kampus rakyat.
Tapi denger-denger fasilitas dan mutu PTN itu sangat terjamin, mangkanya bagi
beberapa mahasiswa mereka memaklumi kenaikan biaya tersebut sebab pikirnya
biaya dan kualitas masih sebanding. Ah tapi saya nggak mau ngebahas dua kubu
ini.
Fenomena kenaikan
biaya kuliah yang membuat mahasiswa "marah" menimbulkan sebuah tanda
tanya, yaitu faktor apa penyebabnya? Saya tidak punya jawaban pasti tentang hal
ini karena saya bukan mahasiswa di salah satu PTN itu, tapi saya ingin menjawab pertanyaan ini dengan
sebuah pertanyaan yang mungkin kelak akan ada yang bisa menjawabnya.
Di era teknologi
informasi sekarang ini aktifitas "pamer" gaya hidup setiap hari pasti kita jumpai. Gaya hidup kemewahan
menjadi hal yang banyak diidam-idamkan oleh semua orang, tidak heran fenomena
"ikut-ikutan" merebak di seantero media sosial. Mungkin hal inilah
yang menjadi sebuah perhatian. Perguruan tinggi merupakan tempat berkumpulnya
para akademisi, meraka punya mata yang amat tajam untuk melihat fenomena
sosial.
Apakah mungkin
kenaikan biaya kuliah salah satunya disebabkan oleh gaya hidup mahasiswa yang
semakin hedonis? Sehingga pihak kampus menganggap wajar apabila biaya kuliah
dinaikkan.
Apakah mereka ingin
meneliti respon mahasiswa terhadap kenaikan biaya pendidikan, seberapa besaran
biaya yg mereka sanggupi untuk pendidikan dan dibandingkan dengan biaya yang
mereka sanggupi untuk memenuhi hasrat gaya hidup meraka sehari hari?
Apakah layak
mengatakan kampus tidak merakyat sedangkan gaya hidup kita sendiri pun bukan
gaya kerakyatan?
Apakah yang
dikatakan "biaya merakyat" itu hanya sekedar murah, lalu bagaimana
perbandingannya dengan kualitas dan fasilitas?
Yang meraka maksud
dalam kata "merakyat" dan "kerakyatan" itu rakyat yang
mana? Jikalau itu merujuk pada biaya bukankah rakyat pun punya kelasnya
masing-masing? Sebab semurah-murahnya biaya pendidikan yang biasa disebut
"merakyat" itu kenyataannya
masih ada saja kelas rakyat yang tidak mampu menjangkau biaya
pendidikan.
Itu hanya sebagian
pertannyaan, mungkin masih ada banyak pertanyaan di pikiran orang lain. Dan
walaupun gaya hidup mahasiswa saat ini tidak dapat dipukul rata, namun peran
social media memiliki dampak yang luar biasa besarnya. Kelap-kelip dunia ini
ternyata sudah menyilaukan sebagian orang. Perubahan lebih cepat dari yang
dibayangkan. Hingga lahirlah generasi yang lebih suka posting daripada mikir.
Muncullah orang-orang yang lebih suka dandan tapi acuh dengan tata kelakuan.
Semoga nilai luhur
bangsaku terus bertahan, walau urat nadinya sekarat digerus arus peradaban
instan.
Sekian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar