Sabtu, 09 April 2016

Biaya kuliah kerakyatan


Belakangan ini di timeline line sering sekali muncul postingan yang membahas tentang kenaikan biaya kuliah di PTN.  Ada yang menolak ada juga yang memaklumi. Bagi yang menolak mereka berkata katanya biaya kuliah sudah ndak merakyat. Bagi yang memaklumi ya you know lah jaman sekarang mana ada yang murah pipis aja bayar, begitu katanya. Seperti biasa saya ndak mau memihak salah satu pihak sebab keduanya ndak ada yang benar dan ndak ada yang salah menurut saya.

Biaya kuliah di PTN berapaan sih? Kupikir dulu itu biaya kuliah di PTN murah lha taunya sama-sama mahal juga ternyata. Mungkin itu sebabnya saat uang kuliah dinaikkan oleh pihak kampus banyak mahasiswa yang demo dan mengatakan kampusnya bukan kampus rakyat. Tapi denger-denger fasilitas dan mutu PTN itu sangat terjamin, mangkanya bagi beberapa mahasiswa mereka memaklumi kenaikan biaya tersebut sebab pikirnya biaya dan kualitas masih sebanding. Ah tapi saya nggak mau ngebahas dua kubu ini.

Fenomena kenaikan biaya kuliah yang membuat mahasiswa "marah" menimbulkan sebuah tanda tanya, yaitu faktor apa penyebabnya? Saya tidak punya jawaban pasti tentang hal ini karena saya bukan mahasiswa di salah satu PTN itu, tapi  saya ingin menjawab pertanyaan ini dengan sebuah pertanyaan yang mungkin kelak akan ada yang bisa menjawabnya.

Di era teknologi informasi sekarang ini aktifitas "pamer" gaya hidup setiap  hari pasti kita jumpai. Gaya hidup kemewahan menjadi hal yang banyak diidam-idamkan oleh semua orang, tidak heran fenomena "ikut-ikutan" merebak di seantero media sosial. Mungkin hal inilah yang menjadi sebuah perhatian. Perguruan tinggi merupakan tempat berkumpulnya para akademisi, meraka punya mata yang amat tajam untuk melihat fenomena sosial.

Apakah mungkin kenaikan biaya kuliah salah satunya disebabkan oleh gaya hidup mahasiswa yang semakin hedonis? Sehingga pihak kampus menganggap wajar apabila biaya kuliah dinaikkan.

Apakah mereka ingin meneliti respon mahasiswa terhadap kenaikan biaya pendidikan, seberapa besaran biaya yg mereka sanggupi untuk pendidikan dan dibandingkan dengan biaya yang mereka sanggupi untuk memenuhi hasrat gaya hidup meraka sehari hari?

Apakah layak mengatakan kampus tidak merakyat sedangkan gaya hidup kita sendiri pun bukan gaya kerakyatan?

Apakah yang dikatakan "biaya merakyat" itu hanya sekedar murah, lalu bagaimana perbandingannya dengan kualitas dan fasilitas?

Yang meraka maksud dalam kata "merakyat" dan "kerakyatan" itu rakyat yang mana? Jikalau itu merujuk pada biaya bukankah rakyat pun punya kelasnya masing-masing? Sebab semurah-murahnya biaya pendidikan yang biasa disebut "merakyat" itu kenyataannya  masih ada saja kelas rakyat yang tidak mampu menjangkau biaya pendidikan.


Itu hanya sebagian pertannyaan, mungkin masih ada banyak pertanyaan di pikiran orang lain. Dan walaupun gaya hidup mahasiswa saat ini tidak dapat dipukul rata, namun peran social media memiliki dampak yang luar biasa besarnya. Kelap-kelip dunia ini ternyata sudah menyilaukan sebagian orang. Perubahan lebih cepat dari yang dibayangkan. Hingga lahirlah generasi yang lebih suka posting daripada mikir. Muncullah orang-orang yang lebih suka dandan tapi acuh dengan tata kelakuan.
Semoga nilai luhur bangsaku terus bertahan, walau urat nadinya sekarat digerus arus peradaban instan.
Sekian.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar